Sepahit Kopi Pagi

Ada yang aneh ketika aku menulis lagi. Perasaan yang lebih dari sedih, menerjang sepahit kopi. Aku senang, tapi aku sedih...

Tidak, tidak.

Yang benar, aku senang, tapi aku rindu.

Ya, aku rindu
Rindu penuh gemuruh
Rindu sampai melumpuh-lumpuh
Pada kamu, kamu, kamu, di hatiku.

Aku rindu
Rindu yang mengharu biru
Menerjang badai, menyebrang lautan
Melawan suratan, menyalahkan Tuhan
Padahal jarak tak jua berkurang
Pada kamu, kamu, kamu, di hatiku.

Aku rindu
Rindu separo gila
Berdarah-darah, berputus asa
Terisak tanpa suara, terisak yang paling parah
Padahal temu tak kunjung tiba
Pada kamu, kamu, kamu, di hatiku.

Aku rindu
Rindu terhebat, bak rindu Majnun kepada Laila
Rindu persis angka delapan, tak ada putus-putusnya
Rindu sejenis bunga melati, harum mewangi sepanjang hari
Padahal keterpisahan tak pergi-pergi
Pada kamu, kamu, kamu, di hatiku.

Aku rindu, Sahabatku, sumpah dan sungguh
Merindukanmu seperti cintanya Muhammad kepada Tuhannya
Merindukanmu seperti sesalnya Adam dan Hawa atas surga
Merindukanmu seperti tunduknya alam semesta kepada Pencipta
Sepanjang masa, tak terhingga, luar biasa.

Aku rindu
Rindu padahal kau belum tentu begitu
Rindu dan tetap rindu, rindu, rindu
Pada kamu, kamu, kamu, di hatiku.

Rindu yang sedih. Rindu sepahit kopi pagi.


A. Modisty
ditulis di Kalimatan Timur, 13 Januari 2016.

2 komentar
Diberdayakan oleh Blogger.