Label:

I Said

Banjarbaru, October 29 2014

I hate to say

I hate to hear

I am afraid of becoming someone's wants, but I mess without whom-that-I-loved-silently

I just write

I just watch

All in silence

All by myself

All is....you.

---Modisty

0 komentar
Label:

Three Words, oh Three Words

Ternyata ada yang lebih menyusahkan dari pada memaafkan orang lain, bagiku, memaafkan diri sendiri adalah hal-yang-paling-ingin-ku-berhasil-kan.

Ketika tidak satupun hal yang dapat membuat ganjalan dalam dada ini lenyap. Ketika tidak ada satu kata mutiarapun mampu membesarkan  hatiku. Ketika aku pikir tak ada jalan keluar dan merasa 'yasudahlah'....tapi aku masih sadar bahwa ini bukan akhir dari segalanya! Aku masih waras. Kejiwaanku sama sekali tidak terganggu, apalagi hanya karena satu tokoh kurang ajar dalam hidupku. Umm, boleh kuralat? Satu tokoh yang pernah ada dalam hidupku. Mungkin bagi sebagian besar orang itu tidak penting, dan sebenarnya aku juga ingin masuk ke dalam sebagian besar orang itu, tapi sialnya yang terjadi justru kebalikannya.

Sudah sejauh ini, selama ini, sedalam ini aku dilupakan, tetap saja ada satu alasan mengapa orang itu tidak juga pergi dari kepalaku. Entah apapun itu, yang jelas aku berusaha. Aku berjuang, aku berdoa, aku hampir menangis menyedihkan, tapi maaf maaf saja aku tidak sampai mengakhiri hidupku di tiang gantungan seperti film-film sad ending jaman sekarang. Aku berlari ke sana ke mari, aku berteriak agar siapapun mengulurkan tangannya dan menarikku bebas dari orang itu. Tapi nihil. Aku masih terjebak dan seperti harus selamanya hidup dalam bayangannya.

Ini tidak adil. Mengapa sulit menguburnya? Mengapa sulit aku membuka pintu dalam hatiku bagi tokoh lain? Mengapa hanya aku sendiri yang merasa semenyedihkan ini?

Yang selama ini terjadi hanyalah aku dipermainkan. Aku berhasil terbang, lalu dijatuhkan.
Kucoba melayang lagi, pisau di bawah sayapku melukai. Aku terjatuh lagi. Selalu sehabis aku berada diatas awan, satu sentilan darinya mampu melemparku kembali ke tanah.

Lalu seorang sahabat menepuk pundakku, membisikan kalimat pendek pada telingaku. Tiga kata, hanya tiga kata yang tak pernah kuhiraukan kebenarannya

'maafkanlah dirimu sendiri.'

Tiga kata penyebab aku terpaku begitu saja. Tiga kata yang membuat aliran darahku seakan berhenti seketika. Bagaimana bisa aku melewatkannya begitu lama? Hampir selama sembilan ratus enam puluh lima hari aku mengabaikan satu fakta paling penting. Selama ini yang aku pikirkan hanyalah bagaimana agar aku dimaafkan olehnya. Dan ternyata yang terjadi justru sebaliknya? Haha, sebaliknya? Aku hanya perlu memaafkan diriku sendiri, begitu?

Baiklah tuan Hujan, walaupun sangaaat terlambat dan aku mengaku bodoh karena begitu lama menyadarinya, aku akan mengapus rinaimu. Aku akan membuatmu berhenti menggenangi teras rumahku, aku akan membuat pelangi sesudahmu. Tolong jangan datang lagi, pun mendung atau angin kabutmu, jangan, Biarkan aku dengan payungku sendiri. Aku akan berdiri di sini sambil menyaksikan jejaku memudar dan perlahan benar-benar menghilang. Aku akan melaksanakan tiga kata dari sahabatku tadi. Aku akan mencoba memaafkan diriku sendiri. 

Berbahagialah dengan awan tebalmu.
Aku akan merindukanmu, suatu saat, aku pasti merindukanmu, tuan Hujan.


 ---Modisty

1 komentar
Label:

(serious scene!) UNCONDITIONAL HAPPINESS

Woy woy, gue ceritain sini. Hari ini tau kenapa tiba-tiba gue dapet kesimpulan dadakan, kesimpulan yang baru gue sadarin 'eh, iye bener..' gitu loh. Gue baru sadarrrrr kalo untuk kebahagiaan seseorang yang kita sayang tuh gak perlu kita tau alesannya, gak perlu kita tau kapan dia mulai bahagia, gak perlu kita tau karena apa, siapa, dan segala macemnya. Karena yang bener-bener sayang itu, bakalan bahagia begitu tau dia bahagia. Bodo amat taunya belakangan, bodo amat gak tau cerita ujung-pangkalnya. Pokoknya, begitu tau dia bahagia, (harusnya) kita juga bahagia detik itu juga.


Tapi lagi-lagi, ngomong dan nulisin gak segampang ngelakuinnya. Kenyataannya buat ikutan senyum di depan dia itu susah! Yang ada malah gue plonga-plongo sendiri kayak orang gila sambil mikir; 'gue temennya, kok gue gak tau ya...' Gitu dahhh.


Dan beberapa perasaan mulai muncul gak karuan. Mulai dari pikiran, 'temen macem apa gue?' sampe prasangka jelek kayak, 'serius dia gak cerita ke gue? Seriusss? SE-RI-USSS?!' Ah, shit!


Tapi buat gue pribadi, yang akhirnya terjadi adalah gue nyalahin diri sendiri. Mungkin gue gak pernah ada waktu lagi buat dia? Mungkin gue terlena sama dunia baru gue? Mungkin gue mulai egois berlebihan? Mungkin juga, gue bukan lagi 'temennya'?


Who knows lah, men. Yang penting, bodo amat status, bodo amat gimana gue di mata dia, buat gue, temen itu selamanya. Gak ada kadaluarsanya. Dia tetep temen gue. Dan gue masih perempuan yang bisa galau maksimal bukan cuma urusan cowok, tapi juga soal temen-temenan.


Yah, kalo kata bang Radit mah, 'aku berantakan tanpa kamu...' Hihihi..


So, mungkin dari cerita gue kali ini gue bisa ngasih tau lo, bahagia itu gak pernah bersyarat. Gak sedikitpun bersyarat, men.




Modisty

0 komentar
Label:

Hingga Matahari Tenggelam Di Timur Semesta

Beberapa waktu tidak bisa ku prediksi dengan baik. Memahaminya seperti berjalan melawan arah eskalator. Berhenti dan menyerah begitu saja seperti ditampar beribu sandal jepit mamakku. Aku dibuatnya seperti layang-layang putus. Seperti memakan simalakama.

Aku bukan tidak berusaha. Aku hanya lelah tapi tidak ingin berhenti. Aku ingin melanjutkan namun tak temukan jalan. Bagaimana aku bisa lancar bernapas sementara tak satupun celah kutemukan? Yah, begitulah filosofinya.

Mencintaimu seperti menghadap tiang gantungan. Aku seperti terdakwa hukuman mati yang tidak bisa berbuat apa-apa. Sementara teriakan mereka begitu keras; meneriakkan bagaimana kepayahanku sendiri. Meneriakkan bagaimana seorang perempuan sok jago akhirnya dibuat bingung sendiri. Aku benci pada situasi seperti ini. Kamu ada tapi tak bisa kulihat. Jalan menujumu begitu terang tapi kaki ini enggan melangkah. Tanganmu bebas ku genggam tapi kamu tetap tak tergapai. Bisakah kau bayangkan ini semua sungguh mengesalkan?

Dan sosok lain mulai menjadikanku obyek dalam kepalanya. Sosok lain mulai mengetuk, sementara telingaku terlalu tuli untuk membukakan pintunya. Sosok lain bolak-bolak di depanku dan aku hanya melihatmu sudut terjauh bola mataku sanggup memandang. Bisakah kau bayangkan bagaimana rasanya menjadi aku?

Hingga musim di negeri ini menjadi empat, dan hujan yang turun lebih deras dari aliran sungai, dan matahari mulai menenggelamkan dirinya di sisi timur semesta, mungkin kamu akan terus betah berdiam di pojok tergelap setiap aliran darah tubuhku.

---Modisty

5 komentar
Label:

Sebenarnya Tidak Sesingkat Tulisan Ini, Sayang.

Sesore ini aku masih saja merindukan pertemuan kita. Bukan apa yang terjadi di masa lalu, tapi aku lebih menginginkan perjumpaan setelah ku lakukan dosa itu.

Aku ingin menengok isi hatimu setelah sempat kubuat berdarah semalam. Aku ingin memastikan benar-benar tak ada aku di dalamnya. Bahkan mungkin bekasnya.

Aku ingin menjadi peramal bisa tahu akan bagaimana aku nanti bila tanpamu seumur hidup. Aku ingin bisa tahu apa benar takkan ada lagi kita untuk selama-lamanya. Aku ingin sekali tahu, apa benar jodoh bukanlah judul yang tepat untuk cerita kita berdua.
 
Modisty

1 komentar
Label:

Akhirnya Hujan Lagi

Akhirnya hujan datang malam ini.

Deras rintiknya seolah betul memahami mengenai rinduku yang terlanjur menumpuk tinggi. Seolah-olah ia bisa dengan mudahnya membaca isi hatiku. Tidak sepertimu.

Seudah lama merdunya tidak menyapa gendang telingaku. Sudah lama wanginya tidak memaksaku untuk memejamkan mata dan khusyu' membau. Sudah lama tak kudekap dingin nafasnya.

Sudah lama seusai kepergian, ah, lagi-lagi, kamu. 

Seandainya kamu sebaik hati hujan itu. Yang akhirnya datang di saat aku hampir tak sanggup menahan rindu. Seandainya harapan-harapan itu tidak sekedar sebentar berlabuh. Seandainya kita semenyenangkan itu.

Seandainya bukan hanya seandainya.

Aku benar-benar tidak mengerti apalagi yang harus kukatakan pada hujan kali ini. Bolehkah bila masih tentang kamu? Masih benar-benar kamu? 

Modisty

1 komentar
Label:

Duniaku; Kamu dan Tulisanku.

Aku bosan terus-terusan menulis begini. Aku bosan menjadi obyek yang paling mengerti orang patah hati. Aku benci mencoba menebak-nebak isi hati seseorang ketika ditinggal pergi. Aku lelah berdiam diri dan selalu merindu sendiri, seperti kebanyak orang yang mencintai halusinasi. Aku ingin berhenti berlagak sebagai perempuan berhati besi.

Aku juga ingin dibilang bahagia. Ingin tertawa lebar tanpa dikira sengsara. 

Apa yang ku tulis disangka yang sebenarnya. Apa pun kata yang kurangkai selalu menjadi sebuah belas kasihan. Tak adakah yang mengerti ini semata kesukaan?

Ini hidupku. Kertas dan tinta cukup membuatku lega bernafas. Mereka membuatku yakin, bahwa tidak semua-muanya harus dibicarakan. Atau bahwa, dengan menulis aku akan merasa menjadi yang paling bahagia.

Ini hobiku tercinta. Menggandeng kalimat demi kalimat menjadi satu tulisan menyedihkan. Memaksa siapapun yang menyaksikan akan meneteskan beberapa buliran. Mungkin inginku diingat sebagai yang sulit dilupakan. Mungkin aku rindu pujian-pujian atas tulisanku, yang kerap membuat luka hatiku perlahan sembuh.

Ini duniaku, untuk mengatakan apa yang mulutku terlalu gagu untuk mengungkapkan.

Tapi aku tidak se-melankolis bayanganmu. Bisa juga tak segagah sebuah batu.

Aku hanya mengikuti mauku. Dan sedikit demi sedikit membebaskan diriku.

Dari kamu.

Modisty

6 komentar
Label:

Tetap Saja Rindu Hujan

Hari ini cerah. Aku cukup berbahagia dan memiliki banyak alasan untuk bersyukur. Setidaknya aku bisa benar-benar menikmati dunia bersama yang selain kamu. Setidaknya aku bisa sebentar melupakan penyebab apa hujan selalu mengguyurku. Aku bersyukur sekali ini hujan tidak turun.

4 komentar
Label:

"Tak ada yang bisa melakukan sebaik dirimu; merindukanmu membuatku sempat lupa mengapa aku harus melupakanmu. Kau peran yang ku agung-agungkan. Cinta yang bertepuk sebelah tangan. Kekasih yang tak pernah kumiliki. Kau memori yang seharusnya kusimpan dalam kotak, dan kubuang jauh-jauh." -Modisty

0 komentar
Label:

Kamu Lagi

Kamu lagi.

Kamu selalu mengisi absensi di setiap malamku. Seperti hujan yang turun menjelang pagi, kau hadir di setiap rintiknya.

3 komentar
Label:

"Kadang, apa yang lo inginkan gak terus-terusan bisa jadi yang lo inginkan." -MA

0 komentar
Label:

Rasanya itu kayak ketek ayam

Lo ngitung gak udah berapa lama kita gak nungguin senja bareng? Ngitung gak udah berapa hari kita gak nonton film horor sampe berjam-jam? Atau inget gak kapan terakhir kali kita boncengan naek motor bertiga kemana-mana? Hah? Hah?

INGET GAAAAAK?

*CUT!*

0 komentar

Tutup buku, buka lembar baru!

Hey, April!
Ini masih gue; masih Modisty yang suka nulis-nulis galau, masih Modisty yang hobi bikin kalimat-kalimat alay. Halaaaaaaaauuu...

Lama gak ngeblog bikin jari-jari gue pegel setengah mati. Akibat lenyapnya koneksi internet di rumah dan kemalasan jalan ke warnet bikin gue ngelus dada nyabarin diri untuk gak ngasih makan ini blog. Padahal banyak banget kejadian yang pengen gue laporin ke halaman ini. Banyak kalimat-kalimat sok sedih yang pengen gue ungkapin. Tapi apa daya, baru sekarang gue bisa rajin nulis lagi. Betewe-betewe, kangen, ya? Kangen dong. Heheu...

Yaps. Ini memang masih blog gue, dan gue masih juga gue, tapi percaya deh, semuanya gak sama lagi. Kemaren ya kemaren, sekarang ya sekarang. Sekecil apapun, semua pasti berubah, pasti ada yang hilang. (kayak salah satu sahabat gue misalnye. Ups). Karena gue percaya gak ada yang gak berubah kecuali perubahan itu sendiri.  Heheu lagi...

Tapi sueeeer, like the first, apa yang gue tulis bisa jadi bukan gue, mungkin juga itu gue, atau sisi lain gue, atau juga gue-gue yang lain. Soooooo... jangan gampang percaya sama gue, because the world just full of shit, rite?

(masih) Modisty :)))

2 komentar
Label:

Aku tau kok kamu sayang aku, tapi juga sayang dia kan?

'Hubungan kita ini apa sih?'

Aku mulai ngerasa kamu gak benar-benar punyaku. Kamu memang ada waktu aku butuh, kamu selalu ada. Tapi aku rasa kamu juga ada untuk orang lain. Kamu tau rasanya mempunyai yang juga dipunyai orang lain gak, sayang? Aku yakiiin banget kamu sayang aku, begitupun dia, kan?

Dia? Dia siapa? Aku gak tau lho, kupikir kamu lebih tau dianya itu siapa.

5 komentar
Label:

MEN, YOU CHANGE ME

"Gue belajar dari lo, men, semuanya.

Kehidupan, airmata, cinta, rasa syukur, 

dan cara pandang mengenai dunia.

Juga tentang rasa sakit

yang ngasih tau gue bahagia yang sebenernya.

Ini mungkin lebay, But, you trully change me." -Modisty, 17 tahun

0 komentar
Label:

RAIN ALWAYS BE RAIN

"Selama mencintai dan dicintai lo gue jadi tau mana  yang diri gue, mana yang bukan. 

Bertahan dan dipertahankan lo gue jadi ngerti bahwa bahagia gak selamanya enak. 

Dan belajar ikhlas melepas lo itu ngebuka mata gue; 

kalo yang kita inginkan gak terus-terusan bisa jadi yang kita inginkan. 
  Dan pada akhirnya, lagi-lagi lo yang bener; rain always be rain, men.

Gak ada yang gak berubah, selain berubahan itu sendiri." -Modisty, 17 tahun

0 komentar
Label:

THINK AGAIN, MEN

"Beberapa orang menilai sastra itu gila. 

Mereka tidak pernah menulis, berkhayal, 

dan merasakan bahagianya berpacaran dengan kata-kata. 

So, think again, men." -Modisty, 17 tahun.

0 komentar
Diberdayakan oleh Blogger.