Label:

Suratnya Indiana, buat Dia.

Ini petang yang lebih berantakan daripada biasanya. Di teras belakang rumah dan tangannya yang gemetaran, sebuah kertas putih terbentang tanpa bisa diam. Ini aneh dan ia tidak mengerti. Kenapa dadanya mulai sesak. Kenapa perasaannya bilang sesegera ini ada yang akan terulang. Ini lucu. Menyadari ia sendirian, ketika mungkin begitu banyak hal akan menyerbu datang.

Ia mungkin tidak siap dengan beberapa kemungkinan. Barangkali bahkan kenyataan. Tapi di sisi lain hatinya, ia berdoa semoga ini akan bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang terlalu lama didiamkan waktu dan keadaan. Yang mungkin selama ini justru ia sembunyikan.

Napas tertarik panjang. Semoga Tuhan bersamanya.

.
***


Hei,


Aku nggak akan bilang ini aku dan nggak akan tanyakan kabarmu. Aku punya harapan dan keyakinan kamu akan dan selalu baik. Jadi ini mungkin adalah surat paling basi yang pernah aku tulis dan kamu punyai.

Sepanjang ini, surat sepanjang inilah yang isinya betapa aku bisa juga menjadi perempuan. Yang lebih dari malu untuk bicara langsung, dan cukup memalukan sampai harus mengirimkan kepadamu amplop putih kaku yang konyol.


Aku sepenuhnya hanya berisi kenangan dan hal-hal lain yang sama membosankan. Kamu salah kalau memilihku. Kamu benar karena tidak memilihku. Ini rasanya, karena sebagian besar isi dari otakku yang kecil ialah bukan masa depan, tapi masa lalu. Juga karena terkadang, di beberapa waktu, aku terlalu mencintai ia daripada perasaanku pada masa sekarang dan masa depan. Sekalipun itu kamu, aku nggak bisa janji untuk mencintai tanpa benar-benar melepaskan apapun dari masa sebelum ada kamu.

Aku mengerti, kadang-kadang, pada rasa takut akan kemungkinan waktu membinasakan apa-apa yang justru kuharapkan. Atau tentang perubahan yang tidak semestinya, di kamu dan segalamu, atau mungkin malah aku, atau keadaan yang melakukannya sebelum aku bisa membereskan apa saja yang telah kubuat berantakan. Aku takut. Percayalah aku takut. Percayalah aku masih memiliki perasaan yang dulu kuagung-agungkan. Percayalah puing-puing rindu itu masih bisa untuk utuh. Percayalah karena sebenar-benarnya aku nggak pernah kemana-mana. Aku nggak pernah ingin juga kamu kemana-mana.

Tapi ini terjadi di luar duga, kendali dan inginku. Kamu harus tau aku sempat lebih dari pusing dan nyaris gila memikirkannya. Memikirkanmu. Waktu pergimu bukan lagi sesuatu yang bisa kubiar dan hentikan. Waktu hujan badai rasanya nggak seberapa menakutkan. Waktu-waktu di mana aku ingin jadi orang paling kaya dan berkuasa sedunia untuk bisa membeli semua waktu yang kita pernah punya. Untuk lalu bisa kubolak-balikkan semauku. Untuk bisa kembalikanmu.

Percayalah, demi Tuhan kita percayalah, aku punya waktu-waktu dimana aku mau memberikan segalaku untuk kembalikan kamu. Percayalah aku pernah berada di saat-saat seburuk itu.

Tapi lalu, lagi-lagi, bukan aku yang pegang kendali. Allah Maha Memperbaiki. Allah mengerti dan ternyata tangan-Nya lah yang kunanti-nanti. Kamu tau, ternyata omongan orang-orang yang dulu sering kita masabodokan bisa benar. Mereka semua kini benar. Kalau waktulah yang sembuhkan luka. Meski ia tidak bisa menghilangkanmu, tapi ia cukup pintar sembunyikanmu. Aku sekarang, menjalani hidup senormal yang paling kubisa untuk terus menjadi perempuan kecil yang suatu hari nanti kamu sulit mengenalinya lagi.

Aku tumbuh, kamu tau, aku bisa bergerak darimu dan kotak kecil kenangan kita yang sempit. Ini memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, tapi kamu harus tau aku bisa melakukannya tanpa bantuanmu. Pertama kalinya dalam hidupku semenjak bertemu kamu, aku bisa melakukan hal aneh tanpa bantuanmu. Bisa melupakanmu tanpa bantuanmu.

Terus sekarang, aku punya kehidupan yang baik. Seperti yang sudah-sudah, hidupku masih ajaib. Hal-hal luar biasa selalu Allah datangkan. Kini aku berada di tempat yang, insya Allah, disenangi Tuhan. Kini aku memiliki napas dan kedipan mata yang lebih berkualitas. Aku masih memilikimu di masa lalu tapi aku tidak kehilangan kesenanganku di masa sekarang. Aku hidup dan mensyukuri apa-apa yang kupernah dan sedang kupunyai. Jadi, sekalipun itu kamu aku nggak bisa janji untuk kembali mencintai tanpa benar-benar melepaskan apapun lagi.


Dan lagi yang paling penting, saat-saat ini aku hanya akan memperbaiki segalaku. Biar nanti kalau kita memang harus kembali bertemu, aku hanya punya hal-hal yang bisa membuatmu kembali jatuh cinta dan senang. Lebih dalam jatuh cinta kepadaku hingga rasanya kamu nggak akan minta apa-apa lagi dari dunia kecuali aku. Dan kupikir rasanya kamu juga harus begitu. Kita akan punya cerita lain yang jauh lebih keren dari yang bisa kita bayangkan.

Juga, karena sekarang aku hanya ingin mencintai Allah saja. Menemukan Allah dulu, baru kamu. Dekat dengan Allah dulu, baru kamu.

Allah dulu, ya, baru kamu.

Begitu, semoga senang dan Allah selalu bersamamu.


Indiana, Lasem 2017.


***

0 komentar
Diberdayakan oleh Blogger.