Label:

Sebelum atau Sesudah Hujan

Salahkah bila menyayangi lebih dulu?
Menyimpan perasaan lebih dulu, dan menyadari sepenuhnya bahwa aku wanita? Salahkah memiliki rasa cinta yang tidak pada waktunya? Bukannya cinta tidak mengenal apapun? Bukannya ia boleh dimiliki siapa saja? Ia bahkan tidak bertanya apakah aku laki-laki atau perempuan, kan?
Bila ini semua mengenai luka dan resiko lainnya, coba biar menjadi urusanku saja.
Tapi mengenai ini tidak bercanda. Ini. Suatu perasaan yang mungkin tak masuk di akal. Perasaan yang salah kutempatkan. Yang terlambat kusadari, untuk bisa kucegah dan kubunuh lebih awal.
Maksudku, ini telah lama. Tepatnya, jauh lebih lama sebelum aku menyadarinya. Aku tidak tahu kapan datangnya. Sebelum atau sesudah hujan. Atau di musim panas. Atau juga di musim aku malas makan dan malas bicara. Atau dia datang dari pertama tangan kanan ini menjabat tangannya? Dari kali pertama bibir ini tersenyum padanya? Atau satu detik setelah kami saling menyebutkan nama? Benarkan sudah selama itu? Sudah separah itu?
Tapi dia sahabatku.
Padahal aku tahu, sudah lama ada dia. Bersamanya ada dia. Padahal mereka sudah saling menemukan. Padahal aku yang turut mempertemukan.
Kini semuanya jelas.
Kini semuanya justru terasa lebih menyakitkan. Lebih baik aku tidak usah menyadarinya, jadi tak perlu repot-repot memikirkan apakah ia juga menyimpan hal yang sama. Lebih baik aku tidak usah tahu, jadi tak usah sibuk membayangkan betapa bahagianya bila rinduku dibalasnya.
Karena aku terlalu takut untuk berbicara. Aku terlalu takut pada sebuah jujur yang nanti akan memungkinkan beberapa hal  menyeramkan.
Akan ada yang hancur. Akan ada yg hilang.
Aku bahkan takut memikirkan kemungkinan aku atau dia yang akan pergi duluan.
Karena pasti perasaan ini butuh untuk disambut. Rindu ini perlu menuntut. Mereka bukan lagi anak bawang yang akan diam dan bersembunyi saja. Mereka menginginkan tuan, yang tidak bisa aku berikan.
Maaf, sepertinya kalian harus tetap berdiam diri.
Maaf, aku tidak ingin merusak apa-apa.
Maaf, karena dia sahabat.
Maaf, dia hanya akan tetap menjadi sahabat.
Maafkan aku, perasaanku.
Banjarbaru, 4 Juni 2015
AMODISTY.

0 komentar
Diberdayakan oleh Blogger.