Tampilkan postingan dengan label INI BUKAN CERPEN INI KAMU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label INI BUKAN CERPEN INI KAMU. Tampilkan semua postingan
Label:

Three Words, oh Three Words

Ternyata ada yang lebih menyusahkan dari pada memaafkan orang lain, bagiku, memaafkan diri sendiri adalah hal-yang-paling-ingin-ku-berhasil-kan.

Ketika tidak satupun hal yang dapat membuat ganjalan dalam dada ini lenyap. Ketika tidak ada satu kata mutiarapun mampu membesarkan  hatiku. Ketika aku pikir tak ada jalan keluar dan merasa 'yasudahlah'....tapi aku masih sadar bahwa ini bukan akhir dari segalanya! Aku masih waras. Kejiwaanku sama sekali tidak terganggu, apalagi hanya karena satu tokoh kurang ajar dalam hidupku. Umm, boleh kuralat? Satu tokoh yang pernah ada dalam hidupku. Mungkin bagi sebagian besar orang itu tidak penting, dan sebenarnya aku juga ingin masuk ke dalam sebagian besar orang itu, tapi sialnya yang terjadi justru kebalikannya.

Sudah sejauh ini, selama ini, sedalam ini aku dilupakan, tetap saja ada satu alasan mengapa orang itu tidak juga pergi dari kepalaku. Entah apapun itu, yang jelas aku berusaha. Aku berjuang, aku berdoa, aku hampir menangis menyedihkan, tapi maaf maaf saja aku tidak sampai mengakhiri hidupku di tiang gantungan seperti film-film sad ending jaman sekarang. Aku berlari ke sana ke mari, aku berteriak agar siapapun mengulurkan tangannya dan menarikku bebas dari orang itu. Tapi nihil. Aku masih terjebak dan seperti harus selamanya hidup dalam bayangannya.

Ini tidak adil. Mengapa sulit menguburnya? Mengapa sulit aku membuka pintu dalam hatiku bagi tokoh lain? Mengapa hanya aku sendiri yang merasa semenyedihkan ini?

Yang selama ini terjadi hanyalah aku dipermainkan. Aku berhasil terbang, lalu dijatuhkan.
Kucoba melayang lagi, pisau di bawah sayapku melukai. Aku terjatuh lagi. Selalu sehabis aku berada diatas awan, satu sentilan darinya mampu melemparku kembali ke tanah.

Lalu seorang sahabat menepuk pundakku, membisikan kalimat pendek pada telingaku. Tiga kata, hanya tiga kata yang tak pernah kuhiraukan kebenarannya

'maafkanlah dirimu sendiri.'

Tiga kata penyebab aku terpaku begitu saja. Tiga kata yang membuat aliran darahku seakan berhenti seketika. Bagaimana bisa aku melewatkannya begitu lama? Hampir selama sembilan ratus enam puluh lima hari aku mengabaikan satu fakta paling penting. Selama ini yang aku pikirkan hanyalah bagaimana agar aku dimaafkan olehnya. Dan ternyata yang terjadi justru sebaliknya? Haha, sebaliknya? Aku hanya perlu memaafkan diriku sendiri, begitu?

Baiklah tuan Hujan, walaupun sangaaat terlambat dan aku mengaku bodoh karena begitu lama menyadarinya, aku akan mengapus rinaimu. Aku akan membuatmu berhenti menggenangi teras rumahku, aku akan membuat pelangi sesudahmu. Tolong jangan datang lagi, pun mendung atau angin kabutmu, jangan, Biarkan aku dengan payungku sendiri. Aku akan berdiri di sini sambil menyaksikan jejaku memudar dan perlahan benar-benar menghilang. Aku akan melaksanakan tiga kata dari sahabatku tadi. Aku akan mencoba memaafkan diriku sendiri. 

Berbahagialah dengan awan tebalmu.
Aku akan merindukanmu, suatu saat, aku pasti merindukanmu, tuan Hujan.


 ---Modisty

1 komentar
Label:

Kamu Membuatku Yakin Ada Kehidupan Yang Baik

Bersamamu aku seperti terlahir kembali. Dan aku yakin aku memang terlahir kembali. Waktuku seperti tidak ada habisnya. Duapuluhempat jamku serasa berjalan lebih cepat. Kamu membuatku menjadi Cinderella yang tidak hanya semalaman.

Bersamamu aku percaya mengenai keadilan Tuhan.

10 komentar
Label:

Mungkin Kamu Sebatas Berarti 'Tidak Pernah' (Story by: Nabila Hadiah Akbar)

Mungkin bukan kisahku untuk berakhir bahagia denganmu. Mungkin memang tidak pernah tanganku yang seharusnya mengenggammu. Mungkin bahagia dan kita hanya tinggal bunga tidur yang mempermainkan rinduku. Ia terbang terlalu tinggi, sampai lupa, bahwa ketika jatuh, hanya tersisa sakitnya yang akan menyiksaku berkepanjangan.

Bahwa harapan terkadang membuat semuanya terasa benar.

5 komentar
Label:

Kapan Saatnya Akan Ada 'Kita'?

Seperti mimpi indah dalam tidurku, kamu sesuatu yang tidak ingin kuusaikan. Kamu fiksi yang selalu ingin kubaca dan kumengerti berulang kali. Memahami setiap inci bagian dalam dirimu. Dan menjadi bagian dalam ceritamu. Dan akhirnya membuat kisah cinta untuk kita sendiri.

Di mana aku sebagai putri raja dan kamu pangerannya.

12 komentar
Label:

Katakan Padaku Betapa Salahnya Berhenti Mencintaimu

Mulai sekarang aku mengaku bodoh. 

Melakukan pengharapan yang terus-menerus tidak berperi-ke-perasaan padaku. Mendekap erat satu sosok yang dari awal tak pernah milikku.

4 komentar
Label:

Cinta Ini Bukan Milik Kita

Langit seolah akan runtuh di mataku. Birunya kian pudar dan awan menggelayut tebal. Ia menangis menitikkan air bahnya ke pangkuan sang bumi. Sampaikah padamu salah satu rintiknya, Sayang?

5 komentar
Label:

I Called It Love

Bicara cinta tak pernah ada habisnya.

Cinta juga tak pernah bisa kumengerti. Ia sendiri juga enggan kumengerti. Seperti memiliki dunianya sendiri. Membatasi dirinya dengan dinding-dinding kokoh. Cinta

0 komentar
Label:

Singkat Saja, Mimpi Masih Saja Berarti Kamu #2

Mimpi. Bagiku itu berarti kamu. Sekelebat bahagia yang bersandar di pelupuk mataku. Menghantui. Mengganggu. Mengusikku. Sial malah menjadi apa yang sangat kucintai.

Membayangkan setiap langkah yang kutiti adalah kamu berjalan di sisiku. Menguatkan aku.. (seperti dulu). Merindukan uluran tanganku tidak menggenggam sendirian. Menyayangkan pelukan yang terlalu lama terhempas angin. Kamu melekat. Erat. Begitu dekat dan enggan kulepas.

Mimpi.. masih saja berarti kamu.

Ah, bagaimana bila selamanya aku sebegini payah?

Modisty

0 komentar
Label:

Singkat Saja, Mimpi Masih Saja Berarti Kamu

Aku pernah punya mimpi. Meski akhirnya hancur berantakan. Meski pecah menjadi potongan terkecil sebuah puing-puing. Sama sekali tidak menyesali aku pernah sangat mencintainya.

Aku pernah punya mimpi. Menjadi semangat, senyum, tawa, gairah, dan alasanku bertahan bersahabat dengan menit dan detik setiap hari dalam hidupku. Menjadikan ku perempuan paling bahagia yang pernah ada, melebihi apapun.

Aku pernah punya mimpi. Dan sekarang pun hanya tersisa samar-samar bayangannya saja.


Modisty

0 komentar
Label:

Cinta? Biar Sajalah Ia Datang Sendiri



Cita dan cinta tak sama lagi.

Jalan yang mereka tapaki bertemu titik akhir di persimpangan. Memutuskan berhenti berdampingan. Sadar diri akan perpisahan yang tidak selamanya menghilang. Sadar diri Tuhan tidak memberkati di setapak yang sama.

Ingatanku menjelajah. Jauh mengakar entah sampai kilometer

7 komentar
Label:

Ini Masih Saja Menuliskanmu, Semenyedihkan Apa sih Aku?

Aku jatuh lagi, Sayang. 

Entah untuk keberapa kalinya, semenjak kamu menyerahkan diri pada keputusan sang hujan. Aku masih saja belum bangun. Mimpi buruk ini adalah yang paling buruk. Kehilanganmu sama saja mengubah seluruh pola kebiasaanku yang tadinya sebagian besar adalah untuk menjadi gadis kecilmu. Aku lelah bila harus terus bersembunyi di balik tawa lebar yang kupertontonkan di muka semesta. Terus saja aku meneriakan aku baik-baik saja. Drama ini sungguh menjengkelkan. Memainkan peran sebagai pembencimu nomor satu adalah hal kurang ajar. Bagaimana

0 komentar
Label:

Tak Bisakah Berhenti Meninggalkan?

Aku bosan dengan sebuah kepergian. Seluruh hidupku selalu saja ditinggalkan. Aku bosan pada kenyataan selalu kutemui diriku sendirian. Ada saja yang pergi. Ada saja yang jauh.

Entah sampai kapan aku dicintai setengah mati oleh teori sialan bahwa siapapun yang datang, adalah untuk meninggalkan. Setiap mikro detik hidupku selalu saja dipenuhi pengkhianatan. Siapa yang benar-benar tinggal? Siapa yang benar-benar mempertahankan?

Aku lelah dengan lengkung bibir memesona. Aku muak dengan tawa lebar yang selalu membuat iri berpasang-pasang orang. Semuanya kuciptakan, semuanya pula

0 komentar
Label:

(Seandainya) Kamu Bukan Siapa-Siapa

Rasanya aneh.

Katika aku dan hatiku mencoba meninggalkanmu. Perlahan bersama doa yang kupanjatkan selepas subuh tadi. Aku ingin Tuhan mengabulkan aku menyingkirkanmu semudah kau perlakukanku. Aku berharap aku sanggup.. aku ingin sekali. Aku berharap mempercayai kamu bukanlah apa-apa, siapa-siapa, dan harusnya sedari dulu ku lempar tinggi-tinggi.

0 komentar
Label:

[Second, last] Aku Ditinggalkan Si Badan Besar Menggemaskan

[Really specially for you Ji, Gigih Ning Trisnanti]

Apa kabar lelakiku?
Setelah dalam kepalaku kamu menari-nari dan selalu berseri. Dalam kepalaku aku adalah perempuan yang sangat tahu keadaanmu, dalam kenyataanku kamu adalah laki-laki yang sangat aku tidak tahu. Lalu bagaimana kabar sebenarmu?

Aku berkeliling mencari-carimu. Setiap sudut mataku berdoa agar kamu bertahan baik-baik saja, atau seharusnya jauh lebih baik.. dari padaku. Aku bernostalgia dengan

0 komentar
Label:

Aku Ditinggalkan Si Badan Besar Menggemaskan

[Really specially for you Ji, Gigih Ning Trisnanti]

Selamat malam lelakiku. Kali pertama aku menyapamu dalam balutan angin malam yang mendekap rapat tubuhku.. semenjak tidak adamu. Kali pertama aku memberanikan diri memikirkan satu sosok berbadan besar menggemaskan yang sialnya mungkin telah menjadi milik perempuan lain. Kali pertama ingin kuakui dan berbicara tepat di hadapan lubang telingamu, aku merindukanmu. Kau tidak mendengar. Baiklah, bisikanku adalah yang pantang menyerah, aku merindukanmu, sangat.. Sayang. Kamu bertahan tidak mengindahkan.

Aku tidak mengerti jenis amnesia apa yang sedang menimpamu. Kamu melupakan

0 komentar
Label:

[Second, last] Dua Super Sahabat.. atau Kusebut Sebagai Malaikat?

Ketika dua pasang tangan menepuk bahuku.

Air mataku seperti ter-pause dan dengan gerakan sangat slow motion kepalaku bergerak berpaling. Dua senyum tanpa basa-basi merengkuhku dengan paksa dan menampar pipiku kuat-kuat,"BANGUN!" katanya, "dunia tidak berakhir di setiap kau merasa sesak dan kehilangan kepercayaan pada matahari"
Aku menampik uluran itu berkali-kali. Memalingkan wajah dan menggeleng kuat-kuat dengan teriakan super kencang kepada dua makhluk Tuhan yang datang tanpa membawa

0 komentar
Label:

Dua Super Sahabat.. atau Kusebut Sebagai Malaikat?

[Really specially for you; Gigih Ning Trisnanti and Praptidatama Nuradilla Iftiharsa]

Pernah merasa nafasmu sesak dan leher seperti terbelit ular raksasa? Kamu kesulitan memeluk oksigen dan aliran darahmu macet di sudut terakhir ia mengalir?

Aku pernah. Di mana rasanya ingin ku rebut remote control kehidupanku dan kupercepat agar luka dan segala macam penyebab air mata ini segera pergi. Di mana rasanya ingin aku menyusul Ibundaku tercinta di salah satu singgasana surga, dan meninggalkan semuanya tanpa pertanggungjawaban nyata sebagai seorang perempuan yang mengaku gagah.
Bagaimana setiap huruf, kata, dan kalimat dalam paragraf kehidupanku tidak

0 komentar
Label:

Kenyataannya Hidupku Tidak Sebatas Kamu, Kamu, dan Kamu Saja

Lihat judulnya, kupikir itu judul terkeren tulisanku. Selama mencinta, bertahan, melepas, dan mengikhlaskan segala macam kamu sebagai satu-satunya obyektivitasku.

Aku pernah memperjuangkanmu. Hingga sampai pada kondisi saat aku harus tau diri; dirimu bukanlah satu-satunya cita dan cinta yang bisa kumiliki. Karena memaksakan kehendakku juga tidak baik. Aku tidak ingin menjadi penyebab segala ketidak-karuan dalam hidupmu dengan banyak orang. Aku tidak ingin menjadi penyebab sebuah rintik hujan dari sepasang bola mata 'si cantik-mu yang sekarang'. Tidak, itu tidak baik.

Aku pernah sekuat tenaga mempertahankan. Hingga sampai aku menemukan sebuah teori mengesalkan.. bahwa rasa bersalah dan rasa cinta itu berbeda. Selama ini aku mencari-cari jawaban atas apa yang sebenarnya kuinginkan;

mengharapkanmu kembali atau mencari penggantimu,

merindukanmu atau melupakanmu,

mengejarmu atau melepaskanmu.

Aku seperti berlari dalam sebuah lingkaran, tak kutemui ujung atau pangkal. Aku menyadari belakangan. Bukan hidup seperti ini yang kuinginkan.. sia-sia.

Ketiga kalinya, aku pernah memilih baik-baik saja. Kepergianmu mati-matian bukanlah masalah. Dan kedatanganmu kupercayai tidak pernah ada. Luka ini tidak pernah terjadi. Kamu bukan siapa-siapa. Aku sanggup menuntaskan seluruh baris puisi dan ceritaku tanpa harus ada kamu. Aku sanggup tersenyum semanis dan tertawa selebar yang kubisa tanpa akibatmu.

Tapi sial, hatiku berkhianat lagi. Sial kamu kembali hadir seperti layang-layang yang kutarik kembali agar tidak melayang pergi. Sial kamu kembali menjadi subyek, predikat, dan obyek sebuah naratif kepalaku dari pagi ke pagi.

Mungkin karena aku tidak benar-benar melupakanmu? Tidak. Jauh di dalam salah satu sudut hatiku, kamu tidak pernah pergi. Tapi jauh dalam realisasi kehidupan nyataku, kamu tidak pernah kembali. Emm.. bila memang kamu bukan jodohku, aku bisa apa ya?


Modisty

0 komentar
Label:

Cerita Ini Belum Selesai-Selesai

Entah bagaimana ini semua terjadi dan hanya kepada satu manusia dan obyektivitasnya yang selalu itu-itu saja. Sebut aja aku dan kamu. Cerita ini masih saja berlangsung. Segala macam hal yang seharusnya kuinginkan kebalikannya menyusahkanku memejamkan dan membuka kembali mataku di esok harinya. Segala macam hal yang seharusnya aku benci membuatku terus melupakan apa yang seharusnya aku ingat. Mereka masih ada, mereka tetap tinggal. Iya, mereka.. segala hal tentang kamu. Sejak mencintaimu aku merasakan suatu metamorfosis yang tidak baik. Menjelma menjadi seorang sakit jiwa yang terlalu sering senyum-senyum sendiri di hadapan layar monitor telepon genggam salah satunya. Atau bertranformasi menjadi perempuan dengan daya khayal tak tertandingi; setiap harinya aku bermimpi bagaimana bila sepasang pakaian pelaminan itu kita kenakan berdampingan? Ah, ada-ada saja.



Modisty

0 komentar
Label:

@modhistut: Tulisan Sabtu malam [Mei, 25/03:47]

Saya membuka kembali sekitar seratus sembilan belas hari ke belakang; banyak kebodohan menjadi penyebab hujan tidak menuntaskan sebuah kepergian, seperti katamu bukan? Saya kembali melayangkan ingatan, sebab apa saya begitu mudah berkata cinta dan menyerahkan diri begitu saja pada seorang yang seharusnya belum cukup fix untuk menjadi salah satu pemelihara kupu-kupu di dalam hati saya. Saya tidak tahu mengapa, hingga kamu begitu mudah untuk dicintai, dan sangat-sulit-dilupakan.. hingga sekarang. Bercermin pada apa yang telah kita sepakati, ada banyak hal menyenangkan dan begitu sederhana hingga cukup berharga untuk saya ingat bahkan mungkin sampai mati. Dan.. bercermin pada apa yang telah kita sepakati, bukankah pernah ada janji untuk sebuah kebiasaan akan mencinta selamanya?
Benar selalu menjadi kalimat-kalimatmu;

0 komentar
Diberdayakan oleh Blogger.