Tampilkan postingan dengan label Short Stories. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Short Stories. Tampilkan semua postingan
Label:

Sorry, I Love Him So Much


“Fikah! Kak Ditto, Fik!”

Lamunanku seketika buyar. Tanpa sungkan, Arin menarik tanganku kasar dan membawaku sampai belakang pintu kelas yang terbuka sedikit.

Ssshh. Wangi itu datang. Wangi parfum yang sudah sangat kuhafal sejak ospek kira-kira satu tahun lalu. Tidak lama sesosok berbadan tinggi tegap dengan alis tebal dan hidung yang cukup dapat dibanggakan kemancungannya, lewat tak jauh dariku. Ia tertawa lebar bersama beberapa teman-temannya. Seperti biasa.

“Suer. Makin hari makin cakep aja manusia satu itu. Senyumnya selalu bisa bikin lutut gue lemes. Iya nggak, Fik?” Ucap Arin dengan mimik yang terlalu menggelikan untuk kujabarkan.

“Hmm.”

“Kabar terakhir yang gue denger, dia sekarang jomblo lho, Fik. Aah, nggak bisa bayangin gimana bahagianya gue kalo bisa jadi pacarnya.”

“Iya, terserah lo. Tapi plis lain kali nggak usah pake acara narik-narik gue segala. Sakit tau” Cibirku.

“Deuu.. sensi amat, non! Nggak ngerti kebahagiaan temen sendiri nih hahahaha” Sahut Arin lalu tertawa ringan.

Gue ngerti kok, Rin. Gue ngerti banget kebahagiaan lo tiap ada dia.

8 komentar
Label:

Cerpen; Tinggal (Bagian 2)

Otakku serasa membeku ketika kalimat 'aku sayang kamu, Sif. Entah karena apa..dan aku gak ingin tau alasannya' yang meluncur begitu saja dari mulutnya. Seperti tidak ada beban, seperti tulus dari hatinya, dan seperti..seperti tidak ada Emil. Sebisa mungkin ku sadarkan diriku, menarik kembali bahagia yang sempat menguap.

Tidak. Tidak mungkin, tidak semestinya begitu, Ri.

"Ri.. aku.."

Tanpa kuperintahkan, kedua kakiku melangkah dan cukup keras badanku menubruk bahu Ari yang tadi berdiri di hadapanku. Aku berlari masuk ke dalam rumah tanpa menutup pintu depan, tempat di mana Ari masih berdiri menunduk. Pertanyaan khawatir dan tatapan heran dari Mama dan kakakku tidak kupedulikan. Aku masuk ke dalam kamar dan menguncinya rapat-rapat. Di saat seperti ini..aku benar-benar berniat agar alien atau makhluk luar angkasa apa saja menculikku dan membawaku pergi dari bumi untuk sementara. Atau membantingkan kepalaku pada tembok beton dan ingatanku hilang untuk saat itu saja. Siapa sajalah, katakan padaku bahwa ini mimpi!

Tidak boleh. Tidak boleh. Tidak boleh!

Mengapa kamu harus mengatakan hal itu, Ri?

0 komentar
Label:

Cerpen; Diam-Diam

Trap trap trap. Kunaiki tangga dengan cepat, nafasku berderu,  jangan telat, jangan telat..

Yes. Dia belum datang!

Aku bersembunyi di belakang tembok putih sambil menyapukan pandangan ke halaman sekolah. Mataku bergberak menunggu sosok seseorang dari jalan raya.

Dimana dia.. Kok belum datang?

Semenit. Dua menit. Itu dia.

Hari ini dia memakai jaket merahnya dengan jam tangan hitam kesayangannya. Helmnya teropong plus motor cowoknya membuat dirinya terlihat lebih gagah. Dia memarkir motornya, melepas helm, dan turun dari motor. langkahnya yg mantap ditambah perawakannya yang tinggi besar sudah menjadi nilai plus bagiku. Belum lagi bagaimana ia berbicara, mengacungkan tangan, menatap mata, tersenyum tipis, dan semua semuanya. Hal-hal sederhana itu selalu menarik perhatianku. Setiap hari, di sekolah, di rumah, tempat les, dimanapun! Aaarghh..

Kebiasaanku mungkin bisa dibilang cukup mengerikan. Sudah sembilan belas kali aku harus bangun dan berangkat pagi-pagi sekali. Untuk apa? Tentu saja dia! Ya – dia.. Entah kenapa aku suka sekali melihatnya memerhatikan gerak-geriknya, pokoknya kalo tentang dia aku menjadi seorang pecinta!

Aku memandanginya berlama-lama, lamaaa sekali sampai cukup tahu bagaimana dia memegang sendok dan garpunya dengan kelingking terangkat sesekali.

1 komentar
Label:

Cerpen; Tinggal

Matahari masih bersinar dengan cerah hari ini. Langit terhampar luas..biru, tanpa satupun titik putih. Hari ini masih sama seperti kemarin. Berjalan lambat sekali, sampai-sampai rasanya ingin ku pinjam mesin waktu Doraemon dan membuatnya lebih cepat lagi.

Aku bersandar di bawah pohon yang besar di halaman belakang rumahku. Di sinilah biasanya aku menghabiskan banyak waktu sendirian atau berdua bersamanya...sebelum dia pergi. Jalan raya seberang komplek tampak jelas dari sini. Kendaraan bermotor lalu lalang mengeluarkan suara bising. Jauh dari itu, kurasa hati dan pikiranku lebih berisik. Banyak suara dan kata-kata yang selalu melintas dan terngiang di kepalaku. Aku mendesah pelan mencoba untuk tenang. Meski aku tahu ni tidak akan berhasil.

Angin berhembus lembut menyapu tubuhku, kesejukannya mengelus kulit wajahku. Perlahan mempermainkan kerudungku dengan lembut. Napas panjang ku hela, lelah. Kemana pun aku berlari dia selalu mengikuti dan sekuat apa pun aku menekannya dia terus muncul. Tapi semua sudah terlambat.. meski aku mengakuinya dan ingin membebaskannya, semua tidak ada artinya lagi. Lalu.. aku harus berbuat apa?

Aku menatap ke depanku. Kendaraan masih banyak lalu lalang. Kebisingan di pikiranku membuatku tidak memperhatikan sekelilingku. Aku bangkit berdiri dan memutuskan untuk kembali ke dalam rumah.

***
Kampus mulai ramai. Aku berjalan di koridor dengan langkah lebar. Beberapa mahasiswa melirikku.

2 komentar
Label:

Cerpen; Maafkan Nabila Sekali Saja.. Bisakah? #3, END



“KAMU GILA! Nggak mungkin.. bilang sama aku kamu hanya bercanda. Bilang, Nabil, bilang!”

Aku menunduk. Tubuhku kaku di tempat. Sekedar mengangkat kepala dan memandang kemarahannya saja aku tidak berani. Aku pengecut di saat-saat seperti ini.

“Nabila..”

“maafkan aku, Jo..” potongku cepat “aku tau aku salah karena memberi tahumu setelah semuanya terlambat untuk dibatalkan. Maaf.. aku.. aku hanya merasa inilah yang harus aku lakukan. Ini.. ini karena aku

3 komentar
Label:

Cerpen; Maafkan Nabila Sekali Saja.. Bisakah? #2



“kalian.. mau apa ke sini?”

Christopher, kakak tertua Jonathan berdiri dan berkata dingin. Di sampingnya, Priscilla, kakak keduanya ikut berdiri. Memandang kami tidak bersahabat. Terlebih kepadaku. Kuremas jemari Jo di tangan kananku. Memohon untuk menguatkan aku.

“kami cuma mau melihat keadaan Mama”

“lo masih inget Mama? Masih inget keluarga?” kata Priscil tajam

“kak, tolong.. biar sebentar. Jo juga mengkhawatirkan Mama, bagaimana pun Jo masih keluarga ini”

“setelah enam tahun lamanya ninggalin rumah demi perempuan macem dia, gitu maksud lo?” tandas Chris tajam “Mama begini juga karena lo. Dia mikirin lo yang malah memilih hidup dengan wanita seperti dia.”

Jonathan tidak menjawab lagi,

0 komentar
Label:

Cerpen; Maafkan Nabila Sekali Saja.. Bisakah?

24 Juli 1999, Jakarta

Aku menatap ke luar jendela. Memandangi satu-per-satu bulir-bulir embun bening yang bergerak membelah dedaunan. Meluncur perlahan tanpa perlawanan. Seakan-akan ikhlas merelakan dirinya untuk jatuh dan akhirnya mengempas tanah. Hancur, tetap tanpa airmata.

Seandainya semudah itu.. seandainya aku memiliki keikhlasan sebesar itu..

Pandanganku beralih pada sebuah punggung yang membelakangiku. Berulang kali tangannya sibuk melepas dan menempelkan telepon genggam. Berulang kali, sepuluh, ah, bahkan mungkin duapuluh kali sebuah nomor mengabaikan panggilannya. Keringat sebesar-besar biji jagung bergantian timbul dan tenggelam dari pelipisnya. Aku yakin tangannya pun sudah basah oleh keringat dingin. Tidak diragukan lagi, raut wajahnya menunjukan kekhawatiran yang amat-sangat.

“gimana, Jo?”

6 komentar
Label:

Cerpen; GOSH! My Boyfriend Is...

Namanya Caesar. Sudah genap satu minggu ini aku selalu memikirkannya. Bisa dibilang ini kali pertama untukku jatuh cinta. Ya, dia cinta pertamaku.
Ceritanya dimulai ketika aku dan sahabatku Inu  menaruh minat pada dunia dancing. Dan Caesar adalah dancer cowok terbaik tingkat SMA se-Pulau Jawa. Pada awalnya, kami murni hanya ingin diajarkan bagaimana caranya agar cepat mahir dance. Maka dari itu kami beranikan diri untuk menyapa dan menawarkan pertemanan pada Caesar. Tidak dinyana, jadilah aku jatuh cinta padanya.
Namun tak sepenuhnya rasa cintaku diberi kemulusan, kau tahu? Aku dan Caesar tidak tinggal di satu kota yang sama. Aku stay di kota kecil nan asri Wonosobo, sedang Caesar di Temanggung. Kami hanya bertemu dua kali dalam seminggu, Sabtu dan Minggu, dimana Caesar yang memang asli Wonosobo, rutin pulang ke rumah orangtuanya.
Sungguh tak ku pungkiri, pesona Caesar mampu menghipnotisku. Siang, malam, kapan saja dia selalu dibenakku. Seperti saat ini, aku sedang asyik membayangkan seandainya dia jadi milikku. Ehehe..

“Bel, Abeeeeel!!”

“Huah!”

0 komentar
Diberdayakan oleh Blogger.