Kamu Tahu yang Namanya Hampa?

Halo, ini postingan kedua setelah sekian lama kita tidak berjumpa , ya? Hahahaha oke, oke ini lebay, tapi, kamu tahu gak yang namanya Hampa?

Ketika kamu nggak bisa lakuin apa pun. Ketika kamu nggak bisa ngomong seperti kamu biasanya ngomong. Ketika kamu merasakan lebih sedikit perasaan setiap harinya. Ketika kamu pikir ketawa adalah suatu keajaiban. Dan senyum adalah mukjizatnya.

Hampa ketika kamu pikir waktu dua puluh empat jam itu terlalu banyak. Ketika kamu pikir siang terlalu lama dan waktu tidur rasanya nggak pernah cukup. Ketika kamu lebih baik terus tidur, bahkan kadang merasa nggak ingin bangun lagi.

Hampa datang ketika kamu melihat dunia begitu luas tanpa bisa kamu sentuh. Hampa ketika kamu menuduh Tuhan jahat. Hampa ketika yang bisa diperbuat hanya berdiri di belakang jendela kotak tempurungmu, sambil mengkhayalkan banyak sekali hal menakjubkan. Bahkan melihat keramaian bisa kamu sebut hal menakjubkan.

Hampa sulit disembuhkan. Ketika tidak ada yang bisa mengusirnya meski mereka saling memberimu semangat. Ketika guyonan rasanya terlalu hambar tanpa langsung bertatap muka. Ketika suara sahabatmu di ujung sana terdengar seperti nyanyian surga. Hampa hanya takluk kepada dua perihal; doa dan jumpa.

Kamu sudah mulai tahu yang namanya Hampa?
Karena aku lebih dari kenyang merasakannya. Karena setiap hari menu makanku lebih banyak Hampa daripada nasi. Karena rasanya seperti menemukan pribadi baru untuk diriku sendiri. Pribadi yang menjijikan karena terlalu pendiam dan kalem sekali. Pribadi yang sama sekali bukan diriku. Hampa tunjukkan kepadaku pentingnya merasa bahagia di saat berada bersama orang banyak.

Kalau kamu sudah sepenuhnya tahu apa itu Hampa, kamu pasti setuju rasanya lebih nggak enak dari lihat mantan tersayang keluar dengan orang lain. Kamu pasti yakin ini lebih buruk daripada patah hati. Kamu pasti akan lebih memilih sakit hati dan nangis berjam-jam daripada merasakan kehampaan. Kamu pasti ngerti, Hampa berarti kosong. Nggak ada perasaan apa pun, biarpun itu benci kepada musuh bebuyutanmu di sekolah dulu. Nggak ada perasaan apa pun, biarpun itu kesal karena dimarahi gurumu. Kamu pasti nggak akan ingin duduk berdiam diri dan menuduh diri sendiri sebagai orang paling nggak berguna. Dan kamu pasti tahu yang dirasakan Ari Lasso saat menciptakan lagu Hampa yang terkenal itu. Kasihan Ari Lasso. Kasihan yang rasakan Hampa. Kasihan aku.

Hampa juga seperti wanita dalam lagu Ada Band: ingin dimengerti. Atau seperti kebanyakan laki-laki bilang tentang wanita, dan wanita bilang tentang laki-laki: susah ditebak, apa maunya sih?

Jadi aku nggak tahu kapan berakhirnya masa penjajahan ini. Kapan si Hampa mau pergi. Kapan aku keluar dari kotak tempurung bodoh ini. Kapan aku melihat dunia lagi. Kapan aku bisa pamer gigi untuk senyum dan tertawa lebar lagi. Kapan aku bisa jadi Indonesian Idol buat teman-temanku lagi. Kapan aku bisa saingan sama burung beo yang berisik lagi. Kapan aku bertemu nama-nama baru atau yang lama. Kapan aku mendengar suara selain doa-doaku sendiri. Dan kapan sih aku bisa balas dendam dengan si Hampa, tunjukkan aku sudah bisa bahagia.

Kapan, ya, kapan? Doakan aku, siapa sajalah!

Modisty
ditulis di Kalimantan Timur, 21 Desember 2016.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.