Label:

Realize

Aku pernah jatuh cinta. Sampai dadaku sesak karenanya. Kepalaku penat tentangnya. Dia menyelinap dalam diriku diam-diam. Dia mengalir dalam darah ini.
Aku pernah jatuh cinta. Jatuh cinta dalam diriku sendiri. Jatuh cinta tanpa sanggup mengungkapkannya.

0 komentar
Label:

I Called It Love

Bicara cinta tak pernah ada habisnya.

Cinta juga tak pernah bisa kumengerti. Ia sendiri juga enggan kumengerti. Seperti memiliki dunianya sendiri. Membatasi dirinya dengan dinding-dinding kokoh. Cinta

0 komentar
Label:

'Itu hanya mimpi...'



Aku berpikir tentang aku 
 
 Aku berpikir tentang ‘kita’

Lalu membuka mataku, itu hanya mimpi

Dia tak melihat apa yang kulihat

Itu hanya mimpi

Setengah mati kuulangi meniti setiap inci jalan

Dimana pernah ada cerita, dan pernah ada dia

Mungkinkahkan kembali?

Siapa yang tahu?

Siapa peduli?

Setengah mati kucoba mencari

Aku menyadari itu hanya mimpi

Tidak ada apa-apa yang berubah

Itu hanya mimpi

Modisty

0 komentar
Label:

Sorry, I Love Him So Much


“Fikah! Kak Ditto, Fik!”

Lamunanku seketika buyar. Tanpa sungkan, Arin menarik tanganku kasar dan membawaku sampai belakang pintu kelas yang terbuka sedikit.

Ssshh. Wangi itu datang. Wangi parfum yang sudah sangat kuhafal sejak ospek kira-kira satu tahun lalu. Tidak lama sesosok berbadan tinggi tegap dengan alis tebal dan hidung yang cukup dapat dibanggakan kemancungannya, lewat tak jauh dariku. Ia tertawa lebar bersama beberapa teman-temannya. Seperti biasa.

“Suer. Makin hari makin cakep aja manusia satu itu. Senyumnya selalu bisa bikin lutut gue lemes. Iya nggak, Fik?” Ucap Arin dengan mimik yang terlalu menggelikan untuk kujabarkan.

“Hmm.”

“Kabar terakhir yang gue denger, dia sekarang jomblo lho, Fik. Aah, nggak bisa bayangin gimana bahagianya gue kalo bisa jadi pacarnya.”

“Iya, terserah lo. Tapi plis lain kali nggak usah pake acara narik-narik gue segala. Sakit tau” Cibirku.

“Deuu.. sensi amat, non! Nggak ngerti kebahagiaan temen sendiri nih hahahaha” Sahut Arin lalu tertawa ringan.

Gue ngerti kok, Rin. Gue ngerti banget kebahagiaan lo tiap ada dia.

8 komentar
Label:

"Just falling love and you know that the world is definitely beautiful" -modhistut, on twitter

0 komentar
Label:

"Tidak perlu disadari, jatuh cinta dan pahamilah. Dan dunia seperti bernyayi bersamamu setiap hari" -modhistut, on twitter

0 komentar
Label:

"Menghela napas panjang. Seperti ada sesuatu jeda didadaku.. entahlah kini sudah tak terhitung aku merindumu" -Rahmahoha, on twitter

0 komentar
Label:

"Aku masih menghitung kelopak mawar yg perlahan berguguran. Percaya kamu kan datang sebelum sang mawar mati kekeringan" -modhistut, on twitter

0 komentar
Label:

"Coba tengok hatimu. Seberapa banyak rindu untukku tertimbun disana? Sama meluapnya seperti rinduku?" -modhistut, on twitter

0 komentar
Label:

Cerpen; Tinggal (Bagian 2)

Otakku serasa membeku ketika kalimat 'aku sayang kamu, Sif. Entah karena apa..dan aku gak ingin tau alasannya' yang meluncur begitu saja dari mulutnya. Seperti tidak ada beban, seperti tulus dari hatinya, dan seperti..seperti tidak ada Emil. Sebisa mungkin ku sadarkan diriku, menarik kembali bahagia yang sempat menguap.

Tidak. Tidak mungkin, tidak semestinya begitu, Ri.

"Ri.. aku.."

Tanpa kuperintahkan, kedua kakiku melangkah dan cukup keras badanku menubruk bahu Ari yang tadi berdiri di hadapanku. Aku berlari masuk ke dalam rumah tanpa menutup pintu depan, tempat di mana Ari masih berdiri menunduk. Pertanyaan khawatir dan tatapan heran dari Mama dan kakakku tidak kupedulikan. Aku masuk ke dalam kamar dan menguncinya rapat-rapat. Di saat seperti ini..aku benar-benar berniat agar alien atau makhluk luar angkasa apa saja menculikku dan membawaku pergi dari bumi untuk sementara. Atau membantingkan kepalaku pada tembok beton dan ingatanku hilang untuk saat itu saja. Siapa sajalah, katakan padaku bahwa ini mimpi!

Tidak boleh. Tidak boleh. Tidak boleh!

Mengapa kamu harus mengatakan hal itu, Ri?

0 komentar
Diberdayakan oleh Blogger.