Label:

(serious scene!) UNCONDITIONAL HAPPINESS

Woy woy, gue ceritain sini. Hari ini tau kenapa tiba-tiba gue dapet kesimpulan dadakan, kesimpulan yang baru gue sadarin 'eh, iye bener..' gitu loh. Gue baru sadarrrrr kalo untuk kebahagiaan seseorang yang kita sayang tuh gak perlu kita tau alesannya, gak perlu kita tau kapan dia mulai bahagia, gak perlu kita tau karena apa, siapa, dan segala macemnya. Karena yang bener-bener sayang itu, bakalan bahagia begitu tau dia bahagia. Bodo amat taunya belakangan, bodo amat gak tau cerita ujung-pangkalnya. Pokoknya, begitu tau dia bahagia, (harusnya) kita juga bahagia detik itu juga.


Tapi lagi-lagi, ngomong dan nulisin gak segampang ngelakuinnya. Kenyataannya buat ikutan senyum di depan dia itu susah! Yang ada malah gue plonga-plongo sendiri kayak orang gila sambil mikir; 'gue temennya, kok gue gak tau ya...' Gitu dahhh.


Dan beberapa perasaan mulai muncul gak karuan. Mulai dari pikiran, 'temen macem apa gue?' sampe prasangka jelek kayak, 'serius dia gak cerita ke gue? Seriusss? SE-RI-USSS?!' Ah, shit!


Tapi buat gue pribadi, yang akhirnya terjadi adalah gue nyalahin diri sendiri. Mungkin gue gak pernah ada waktu lagi buat dia? Mungkin gue terlena sama dunia baru gue? Mungkin gue mulai egois berlebihan? Mungkin juga, gue bukan lagi 'temennya'?


Who knows lah, men. Yang penting, bodo amat status, bodo amat gimana gue di mata dia, buat gue, temen itu selamanya. Gak ada kadaluarsanya. Dia tetep temen gue. Dan gue masih perempuan yang bisa galau maksimal bukan cuma urusan cowok, tapi juga soal temen-temenan.


Yah, kalo kata bang Radit mah, 'aku berantakan tanpa kamu...' Hihihi..


So, mungkin dari cerita gue kali ini gue bisa ngasih tau lo, bahagia itu gak pernah bersyarat. Gak sedikitpun bersyarat, men.




Modisty

0 komentar
Label:

Hingga Matahari Tenggelam Di Timur Semesta

Beberapa waktu tidak bisa ku prediksi dengan baik. Memahaminya seperti berjalan melawan arah eskalator. Berhenti dan menyerah begitu saja seperti ditampar beribu sandal jepit mamakku. Aku dibuatnya seperti layang-layang putus. Seperti memakan simalakama.

Aku bukan tidak berusaha. Aku hanya lelah tapi tidak ingin berhenti. Aku ingin melanjutkan namun tak temukan jalan. Bagaimana aku bisa lancar bernapas sementara tak satupun celah kutemukan? Yah, begitulah filosofinya.

Mencintaimu seperti menghadap tiang gantungan. Aku seperti terdakwa hukuman mati yang tidak bisa berbuat apa-apa. Sementara teriakan mereka begitu keras; meneriakkan bagaimana kepayahanku sendiri. Meneriakkan bagaimana seorang perempuan sok jago akhirnya dibuat bingung sendiri. Aku benci pada situasi seperti ini. Kamu ada tapi tak bisa kulihat. Jalan menujumu begitu terang tapi kaki ini enggan melangkah. Tanganmu bebas ku genggam tapi kamu tetap tak tergapai. Bisakah kau bayangkan ini semua sungguh mengesalkan?

Dan sosok lain mulai menjadikanku obyek dalam kepalanya. Sosok lain mulai mengetuk, sementara telingaku terlalu tuli untuk membukakan pintunya. Sosok lain bolak-bolak di depanku dan aku hanya melihatmu sudut terjauh bola mataku sanggup memandang. Bisakah kau bayangkan bagaimana rasanya menjadi aku?

Hingga musim di negeri ini menjadi empat, dan hujan yang turun lebih deras dari aliran sungai, dan matahari mulai menenggelamkan dirinya di sisi timur semesta, mungkin kamu akan terus betah berdiam di pojok tergelap setiap aliran darah tubuhku.

---Modisty

5 komentar
Label:

Sebenarnya Tidak Sesingkat Tulisan Ini, Sayang.

Sesore ini aku masih saja merindukan pertemuan kita. Bukan apa yang terjadi di masa lalu, tapi aku lebih menginginkan perjumpaan setelah ku lakukan dosa itu.

Aku ingin menengok isi hatimu setelah sempat kubuat berdarah semalam. Aku ingin memastikan benar-benar tak ada aku di dalamnya. Bahkan mungkin bekasnya.

Aku ingin menjadi peramal bisa tahu akan bagaimana aku nanti bila tanpamu seumur hidup. Aku ingin bisa tahu apa benar takkan ada lagi kita untuk selama-lamanya. Aku ingin sekali tahu, apa benar jodoh bukanlah judul yang tepat untuk cerita kita berdua.
 
Modisty

1 komentar
Label:

Akhirnya Hujan Lagi

Akhirnya hujan datang malam ini.

Deras rintiknya seolah betul memahami mengenai rinduku yang terlanjur menumpuk tinggi. Seolah-olah ia bisa dengan mudahnya membaca isi hatiku. Tidak sepertimu.

Seudah lama merdunya tidak menyapa gendang telingaku. Sudah lama wanginya tidak memaksaku untuk memejamkan mata dan khusyu' membau. Sudah lama tak kudekap dingin nafasnya.

Sudah lama seusai kepergian, ah, lagi-lagi, kamu. 

Seandainya kamu sebaik hati hujan itu. Yang akhirnya datang di saat aku hampir tak sanggup menahan rindu. Seandainya harapan-harapan itu tidak sekedar sebentar berlabuh. Seandainya kita semenyenangkan itu.

Seandainya bukan hanya seandainya.

Aku benar-benar tidak mengerti apalagi yang harus kukatakan pada hujan kali ini. Bolehkah bila masih tentang kamu? Masih benar-benar kamu? 

Modisty

1 komentar
Label:

Duniaku; Kamu dan Tulisanku.

Aku bosan terus-terusan menulis begini. Aku bosan menjadi obyek yang paling mengerti orang patah hati. Aku benci mencoba menebak-nebak isi hati seseorang ketika ditinggal pergi. Aku lelah berdiam diri dan selalu merindu sendiri, seperti kebanyak orang yang mencintai halusinasi. Aku ingin berhenti berlagak sebagai perempuan berhati besi.

Aku juga ingin dibilang bahagia. Ingin tertawa lebar tanpa dikira sengsara. 

Apa yang ku tulis disangka yang sebenarnya. Apa pun kata yang kurangkai selalu menjadi sebuah belas kasihan. Tak adakah yang mengerti ini semata kesukaan?

Ini hidupku. Kertas dan tinta cukup membuatku lega bernafas. Mereka membuatku yakin, bahwa tidak semua-muanya harus dibicarakan. Atau bahwa, dengan menulis aku akan merasa menjadi yang paling bahagia.

Ini hobiku tercinta. Menggandeng kalimat demi kalimat menjadi satu tulisan menyedihkan. Memaksa siapapun yang menyaksikan akan meneteskan beberapa buliran. Mungkin inginku diingat sebagai yang sulit dilupakan. Mungkin aku rindu pujian-pujian atas tulisanku, yang kerap membuat luka hatiku perlahan sembuh.

Ini duniaku, untuk mengatakan apa yang mulutku terlalu gagu untuk mengungkapkan.

Tapi aku tidak se-melankolis bayanganmu. Bisa juga tak segagah sebuah batu.

Aku hanya mengikuti mauku. Dan sedikit demi sedikit membebaskan diriku.

Dari kamu.

Modisty

6 komentar
Label:

Tetap Saja Rindu Hujan

Hari ini cerah. Aku cukup berbahagia dan memiliki banyak alasan untuk bersyukur. Setidaknya aku bisa benar-benar menikmati dunia bersama yang selain kamu. Setidaknya aku bisa sebentar melupakan penyebab apa hujan selalu mengguyurku. Aku bersyukur sekali ini hujan tidak turun.

4 komentar
Label:

"Tak ada yang bisa melakukan sebaik dirimu; merindukanmu membuatku sempat lupa mengapa aku harus melupakanmu. Kau peran yang ku agung-agungkan. Cinta yang bertepuk sebelah tangan. Kekasih yang tak pernah kumiliki. Kau memori yang seharusnya kusimpan dalam kotak, dan kubuang jauh-jauh." -Modisty

0 komentar
Label:

Kamu Lagi

Kamu lagi.

Kamu selalu mengisi absensi di setiap malamku. Seperti hujan yang turun menjelang pagi, kau hadir di setiap rintiknya.

3 komentar
Label:

"Kadang, apa yang lo inginkan gak terus-terusan bisa jadi yang lo inginkan." -MA

0 komentar
Label:

Rasanya itu kayak ketek ayam

Lo ngitung gak udah berapa lama kita gak nungguin senja bareng? Ngitung gak udah berapa hari kita gak nonton film horor sampe berjam-jam? Atau inget gak kapan terakhir kali kita boncengan naek motor bertiga kemana-mana? Hah? Hah?

INGET GAAAAAK?

*CUT!*

0 komentar
Diberdayakan oleh Blogger.