Label:

Cerpen; Tinggal (Bagian 2)

Otakku serasa membeku ketika kalimat 'aku sayang kamu, Sif. Entah karena apa..dan aku gak ingin tau alasannya' yang meluncur begitu saja dari mulutnya. Seperti tidak ada beban, seperti tulus dari hatinya, dan seperti..seperti tidak ada Emil. Sebisa mungkin ku sadarkan diriku, menarik kembali bahagia yang sempat menguap.

Tidak. Tidak mungkin, tidak semestinya begitu, Ri.

"Ri.. aku.."

Tanpa kuperintahkan, kedua kakiku melangkah dan cukup keras badanku menubruk bahu Ari yang tadi berdiri di hadapanku. Aku berlari masuk ke dalam rumah tanpa menutup pintu depan, tempat di mana Ari masih berdiri menunduk. Pertanyaan khawatir dan tatapan heran dari Mama dan kakakku tidak kupedulikan. Aku masuk ke dalam kamar dan menguncinya rapat-rapat. Di saat seperti ini..aku benar-benar berniat agar alien atau makhluk luar angkasa apa saja menculikku dan membawaku pergi dari bumi untuk sementara. Atau membantingkan kepalaku pada tembok beton dan ingatanku hilang untuk saat itu saja. Siapa sajalah, katakan padaku bahwa ini mimpi!

Tidak boleh. Tidak boleh. Tidak boleh!

Mengapa kamu harus mengatakan hal itu, Ri?

0 komentar
Label:

Cerpen; Diam-Diam

Trap trap trap. Kunaiki tangga dengan cepat, nafasku berderu,  jangan telat, jangan telat..

Yes. Dia belum datang!

Aku bersembunyi di belakang tembok putih sambil menyapukan pandangan ke halaman sekolah. Mataku bergberak menunggu sosok seseorang dari jalan raya.

Dimana dia.. Kok belum datang?

Semenit. Dua menit. Itu dia.

Hari ini dia memakai jaket merahnya dengan jam tangan hitam kesayangannya. Helmnya teropong plus motor cowoknya membuat dirinya terlihat lebih gagah. Dia memarkir motornya, melepas helm, dan turun dari motor. langkahnya yg mantap ditambah perawakannya yang tinggi besar sudah menjadi nilai plus bagiku. Belum lagi bagaimana ia berbicara, mengacungkan tangan, menatap mata, tersenyum tipis, dan semua semuanya. Hal-hal sederhana itu selalu menarik perhatianku. Setiap hari, di sekolah, di rumah, tempat les, dimanapun! Aaarghh..

Kebiasaanku mungkin bisa dibilang cukup mengerikan. Sudah sembilan belas kali aku harus bangun dan berangkat pagi-pagi sekali. Untuk apa? Tentu saja dia! Ya – dia.. Entah kenapa aku suka sekali melihatnya memerhatikan gerak-geriknya, pokoknya kalo tentang dia aku menjadi seorang pecinta!

Aku memandanginya berlama-lama, lamaaa sekali sampai cukup tahu bagaimana dia memegang sendok dan garpunya dengan kelingking terangkat sesekali.

1 komentar
Label:

Cerpen; Tinggal

Matahari masih bersinar dengan cerah hari ini. Langit terhampar luas..biru, tanpa satupun titik putih. Hari ini masih sama seperti kemarin. Berjalan lambat sekali, sampai-sampai rasanya ingin ku pinjam mesin waktu Doraemon dan membuatnya lebih cepat lagi.

Aku bersandar di bawah pohon yang besar di halaman belakang rumahku. Di sinilah biasanya aku menghabiskan banyak waktu sendirian atau berdua bersamanya...sebelum dia pergi. Jalan raya seberang komplek tampak jelas dari sini. Kendaraan bermotor lalu lalang mengeluarkan suara bising. Jauh dari itu, kurasa hati dan pikiranku lebih berisik. Banyak suara dan kata-kata yang selalu melintas dan terngiang di kepalaku. Aku mendesah pelan mencoba untuk tenang. Meski aku tahu ni tidak akan berhasil.

Angin berhembus lembut menyapu tubuhku, kesejukannya mengelus kulit wajahku. Perlahan mempermainkan kerudungku dengan lembut. Napas panjang ku hela, lelah. Kemana pun aku berlari dia selalu mengikuti dan sekuat apa pun aku menekannya dia terus muncul. Tapi semua sudah terlambat.. meski aku mengakuinya dan ingin membebaskannya, semua tidak ada artinya lagi. Lalu.. aku harus berbuat apa?

Aku menatap ke depanku. Kendaraan masih banyak lalu lalang. Kebisingan di pikiranku membuatku tidak memperhatikan sekelilingku. Aku bangkit berdiri dan memutuskan untuk kembali ke dalam rumah.

***
Kampus mulai ramai. Aku berjalan di koridor dengan langkah lebar. Beberapa mahasiswa melirikku.

2 komentar
Label:

Singkat Saja, Mimpi Masih Saja Berarti Kamu #2

Mimpi. Bagiku itu berarti kamu. Sekelebat bahagia yang bersandar di pelupuk mataku. Menghantui. Mengganggu. Mengusikku. Sial malah menjadi apa yang sangat kucintai.

Membayangkan setiap langkah yang kutiti adalah kamu berjalan di sisiku. Menguatkan aku.. (seperti dulu). Merindukan uluran tanganku tidak menggenggam sendirian. Menyayangkan pelukan yang terlalu lama terhempas angin. Kamu melekat. Erat. Begitu dekat dan enggan kulepas.

Mimpi.. masih saja berarti kamu.

Ah, bagaimana bila selamanya aku sebegini payah?

Modisty

0 komentar
Label:

Singkat Saja, Mimpi Masih Saja Berarti Kamu

Aku pernah punya mimpi. Meski akhirnya hancur berantakan. Meski pecah menjadi potongan terkecil sebuah puing-puing. Sama sekali tidak menyesali aku pernah sangat mencintainya.

Aku pernah punya mimpi. Menjadi semangat, senyum, tawa, gairah, dan alasanku bertahan bersahabat dengan menit dan detik setiap hari dalam hidupku. Menjadikan ku perempuan paling bahagia yang pernah ada, melebihi apapun.

Aku pernah punya mimpi. Dan sekarang pun hanya tersisa samar-samar bayangannya saja.


Modisty

0 komentar
Label:

Cinta? Biar Sajalah Ia Datang Sendiri



Cita dan cinta tak sama lagi.

Jalan yang mereka tapaki bertemu titik akhir di persimpangan. Memutuskan berhenti berdampingan. Sadar diri akan perpisahan yang tidak selamanya menghilang. Sadar diri Tuhan tidak memberkati di setapak yang sama.

Ingatanku menjelajah. Jauh mengakar entah sampai kilometer

7 komentar
Label:

"Hidup itu seperti kopi. Kalau ketemu pahit-pahitnya ya nikmatin aja" -modhistut, on twitter

1 komentar
Label:

Cerpen; Maafkan Nabila Sekali Saja.. Bisakah? #3, END



“KAMU GILA! Nggak mungkin.. bilang sama aku kamu hanya bercanda. Bilang, Nabil, bilang!”

Aku menunduk. Tubuhku kaku di tempat. Sekedar mengangkat kepala dan memandang kemarahannya saja aku tidak berani. Aku pengecut di saat-saat seperti ini.

“Nabila..”

“maafkan aku, Jo..” potongku cepat “aku tau aku salah karena memberi tahumu setelah semuanya terlambat untuk dibatalkan. Maaf.. aku.. aku hanya merasa inilah yang harus aku lakukan. Ini.. ini karena aku

3 komentar
Label:

Cerpen; Maafkan Nabila Sekali Saja.. Bisakah? #2



“kalian.. mau apa ke sini?”

Christopher, kakak tertua Jonathan berdiri dan berkata dingin. Di sampingnya, Priscilla, kakak keduanya ikut berdiri. Memandang kami tidak bersahabat. Terlebih kepadaku. Kuremas jemari Jo di tangan kananku. Memohon untuk menguatkan aku.

“kami cuma mau melihat keadaan Mama”

“lo masih inget Mama? Masih inget keluarga?” kata Priscil tajam

“kak, tolong.. biar sebentar. Jo juga mengkhawatirkan Mama, bagaimana pun Jo masih keluarga ini”

“setelah enam tahun lamanya ninggalin rumah demi perempuan macem dia, gitu maksud lo?” tandas Chris tajam “Mama begini juga karena lo. Dia mikirin lo yang malah memilih hidup dengan wanita seperti dia.”

Jonathan tidak menjawab lagi,

0 komentar
Label:

Cerpen; Maafkan Nabila Sekali Saja.. Bisakah?

24 Juli 1999, Jakarta

Aku menatap ke luar jendela. Memandangi satu-per-satu bulir-bulir embun bening yang bergerak membelah dedaunan. Meluncur perlahan tanpa perlawanan. Seakan-akan ikhlas merelakan dirinya untuk jatuh dan akhirnya mengempas tanah. Hancur, tetap tanpa airmata.

Seandainya semudah itu.. seandainya aku memiliki keikhlasan sebesar itu..

Pandanganku beralih pada sebuah punggung yang membelakangiku. Berulang kali tangannya sibuk melepas dan menempelkan telepon genggam. Berulang kali, sepuluh, ah, bahkan mungkin duapuluh kali sebuah nomor mengabaikan panggilannya. Keringat sebesar-besar biji jagung bergantian timbul dan tenggelam dari pelipisnya. Aku yakin tangannya pun sudah basah oleh keringat dingin. Tidak diragukan lagi, raut wajahnya menunjukan kekhawatiran yang amat-sangat.

“gimana, Jo?”

6 komentar
Diberdayakan oleh Blogger.